my pathetic work in writing

TATP

So you think you know what a grief is?

An enemy fiesting when your wheel crumble downhill.

Salty dust on your wound. Bitter but heals. The question is whose wound?

SN 1.1

Raja Castellans membuka mulutnya untuk menentang keputusan itu tapi diurungkan niatnya untuk berbicara melihat ekspresi keras kepala di wajah pria yang baru dikenalnya itu. Tatapan tanpa ekspresi itu mengingatkannya pada cerita yang berulang kali diceritakan kakeknya di masa lalunya. Tatapan itu adalah tatapan dendam, entah apa kesalahannya pada penyelamatnya ini. Dengan wajah kalah ia meninggalkan tahta kerajaan serta istana tempatnya memerintah.

Dalam tatapan itu Raphael seperti melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang selalu menyembunyikan perasaannya pada dunia dibalik tatapan tanpa ekspresinya dengan hawa kemarahan tertahan sangat nyata hingga dapat disentuh. Dia, Bernhard Michael, adalah sebuah bom waktu berjalan siap meledakkan segala yang dilaluinya. Layaknya tokoh kisah dongeng yang tiba-tiba menjelma nyata. Kebencian telah diwariskan, dahulu ia meragukan hal itu dapat terjadi, tapi kenyataan telah menunjukan bahwa keyakinannya tak selalu benar.

Mereka bergegas melalui jalan tikus. Sebuah jalur yang dipakai lelujur Sang Raja untuk memasukkan harem para raja dari luar istana. Betapa memalukan penghinaan yang harus ditanggung Sang Raja akibat kebodohannya di masa lalunya.

“Kemana kita semua akan pergi?” tanyanya.

“Kau berbicara padaku, Raphael?” Bernhard balik bertanya.

“Tentu saja padamu memangnya siapa lagi yang bisa menjawab pertanyaanku? Kau pikir siapa yang mau menolong kita? Kerajaan Vish dikenal karena kerajaan berhasil menundukkan banyak kerjaan di sekitarnya. Jadi kurasa takkan ada yang mau menolong kita sekarang,” terang Raphael.

“Ada seseorang yang mau menolong kalian. Kalau tidak apakah kau berpikir bahwa aku akan menolongnya? Sangat lucu!”

“Baiklah aku mengerti, tapi tidakkah menurutmu seseorang juga perlu tahu sesuatu? Hanya untuk menenangkannya,” desak Rafe sambil menunjuk orang yang dimaksudkannya.

“Kurasa ini bukanlah waktu yang tepat, Rafe. Selain itu bukan tugasku memberitahunya. Terima kasih, Tuhan! Itu takkan tertahankan,” kata Bernhard.

“Dengan segala hormat saya mengerti, tapi…………….” elak Rafe.

“Kurasa itu bukan urusanmu, Rafe. Atau aku tidak akan mengantarkan kalian! Pikirkanlah Rafe, ini hal yang terlalu penting untuk kau pertaruhkan,” jawabnya.

“Aku tahu, tapi …………………” elaknya lagi.

“Tak ada tapi-tapian. Aku akan mengantarkanmu sampai kau bertemu dengan penghubungku. Kalau kau mau memberikan pendapat simpanlah sampai kau bertemu dengannya. Bagaimana?” tanyanya dengan suara memaksa. Sebuah anggukan menyetujui kesepakatan itu. Kemudian ia kembali menemui Raja Castellans.

Dalam kebingungan yang semakin menderanya, akhirnya Raja Castellans angkat bicara. “Jadi siapa kau sebenarnya? Darimana asalmu dan apa kepentinganmu dalam masalah ini? Aku yakin kau bukanlah sekedar tamu yang datang ke pestaku atas undangan Raphael kan?”

“Well, tentu saja bukan. Tapi maaf saya tidak berhak untuk memberitahu Anda, Yang Mulia. Seperti saya telah katakan berulang kali darimana dan kemana saya akan pergi adalah rahasia dan saya tidak berhak memberitahu Anda.”

“Baiklah, tapi setidaknya berikanlah sedikit petunjuk padaku tentang kemana kita akan pergi,” Sang Raja berkata dengan wajah memelas.

“Well, saya kira saya tidak akan dihukum jika hanya sedikit memberitahu Anda tentang tujuan kita, Kerajaan Palsia. Tepatnya menuju Puri Sir Iron,” jawab Bernhard.

“Bukankah kerajaan itu telah hancur bertahun-tahun yang lalu dan menutup hubungan dengan dunia luar?” tanyanya.

“Sepertinya tidak sehancur yang diharapkan banyak orang, tetapi saya rasa isolasi itu malah menguntungkan keadaan Anda sekarang,” jawab Bernhard Michael diplomatis sambil tersenyum ganjil. “Karena sepertinya seseorang juga ingin ikut rombongan kita, aku akan membereskannya. Yang Mulia Anda masih ingat  jalan rahasia menuju ke sana bukan? Rafe, pergilah dulu, aku akan segera menyusulmu”

Sang Raja tak habis pikir bagaimana bisa dirinya terlibat lagi dengan kerajaan yang dianggap telah hilang itu. Ingatan masa kecilnya masih menyimpan kenangan tentang kerajaan yang dipimpin oleh Dinasti Demeter yang misterius itu. Saat dia masih berumur 10 tahun dan begitu senang menjelajahi Istana Peristirahatan Kerajaan Vayou yang kosong. Tanpa ia sadari ia telah menemukan jalan rahasia keluar tembok istana menuju sebuah hutan di seberang sungai belakang istana yang belakangan diketahuinya adalah wilayah kerajaan Palsia.

***

Sudah lama ia tak pernah menghirup udara sesegar ini. Mereka pasti tidak menyangka bahwa ia telah melarikan diri sampai ke tempat ini. Siapa suruh mereka menahannya di dalam istana dengan permainan membosankan itu, sekarang tanggung sendiri akibatnya, pikirnya jahil.

“Hei! Kau kira siapa kau? Berani sekali kau masuk kemari? Apa kau tidak membaca prasasti di depan hutan ini?” tuduhnya.

“Hei, siapa kau berani membentakku? Memangnya jalan ini milik moyangmu apa!” bentaknya.

“Aku cuma bertanya apa kau tidak membaca prasati di depan hutan ini? Apa selain buta kau juga tuli, heh?”

“Memangnya ada prasasti apa sih yang membuatmu genting begitu?”

“Prasasti yang berisi larangan memasuki hutan ini, bodoh! Memangnya orang tuamu tidak memberitahumu untuk memjauhi hutan ini. Jadi apa kau melihatnya?”

“Maaf, aku rasa aku tak melihat hal seperti yang kau katakan tadi. Jadi siapa kau dan mengapa kau berada di hutan ini kalau tak ada yang boleh masuk?”

“Itu bukan urusanmu! Kalau kau masih sayang nyawamu, kembalilah lewat jalan yang tadi kau lalui. Semoga kau menikmati perjalananmu dan jangan kembali lagi kemari.”

Lalu gadis itu masuk kembali kedalam hutan dalam sekejap mata tanpa menoleh sekalipun. Sang Pangeran terpana untuk beberapa saat karena sebelumnya tak ada yang pernah mengatainya buta dan tuli kemudian berlalu begitu saja tanpa menoleh kembali. Siapa sebenarnya gadis itu, ia tahu walaupun memakai jubah hitam lengkap dengan kerudung yang menutupi wajahnya tak mungkin suara bentakan semerdu itu milik seorang laki-laki. Sama halnya dengan membandingkan suara nyanyian merpati dengan raungan singa gunung.

Lalu ia teringat tentang penyihir hutan di perbatasan Kerajaan Vayou dengan Kepangeranan Palsia seperti yang sering diceritakan Rafe. Dulunya dia yakin Rafe hanya mengada-ada tapi mau tak mau sekarang dia harus mempercayai cerita itu.  Hanya penyihir saja yang bisa menghilang secepat itu.

Dengan langkah gontai Sang Pangeran menelusuri kembali jalannya seperti yang disarankan penyihir itu. Akhirnya ia menemukan prasasti yang bertuliskan larangan untuk memasuki wilayah hutan milik Kepangeranan Palsia itu. Ia tak habis pikir kenapa ada jalan tembus dari istana kerajaan menuju kerajaan hantu itu. Nanti akan ditanyakannya kepada Rafe.

Sesampainya di istana ia lupa bertanya tentang hal itu karena Rafe langsung memarahinya. Kemudian ayahandanya memerintahkan berbagai macam hal untuk dikerjakan Rafe hingga ia melupakan hal tersebut. Sampai hari ini.

***

“Selamat datang di Palsia,” kata Bernhard Michael dengan wajah sumringah.

Goyangan ranting dan dedaunan tertiup angin sepoi menyambut kedatangan rombongan itu di depan gerbangnya. Hutan itu lebih lebat dari pada ketika ia masih kecil dan rasanya dahulu tidak ada suara singa gunung seperti yang sayup-sayup ia dengar. Namun tak ada yang berubah, kemisteriusannya masih tertinggal. Kira-kira apa yang akan ditemukannya dibalik hutan ini. Menurut cerita yang beredar, tak ada yang pernah kembali setelah masuk ke dalam hutan ini.

“Saya akan mengantar kalian ke Puri Sir Iron yang akan menjadi tempat tinggal Anda ke depan. Aku yakin kalian akan betah disana. Di ujung hutan ini ada kereta yang akan mengantarkan kita ke tempat tujuan kalian,” ajaknya.

“Terimakasih atas kebaikanmu tapi apakah pemilik puri itu tidak akan keberatan menampung kami ditempatnya,” ucap Sang Raja.

“Sebenarnya pemiliknya sedikit keberatan tapi karena menolong Anda adalah permintaan langsung dari pemimpin kami, jadi Anda akan selamat selama berada disini,” jelasnya. “Apakah Anda keberatan, Yang Mulia?”

“Tentu saja aku tidak keberatan, semuanya tergantung pada keputusanmu. Aku tak berhak memilih penolongku bukan?”

“Kalau begitu akhirnya kita sepakat mengenai satu hal. Ayo kita bergegas, keretanya tak jauh dari sini,” ajaknya sekali lagi.

Mereka bergegas mengikuti langkah Bernhard menuju puri itu. Setelah sampai di gerbang masuk kota, ia menunjukkan tanda pengenal kemudian gerbang itu membuka dengan lebar. Ia lalu berbicara dengan penjaga gerbang tersebut.

“Perkenalkan ini Trochunter Delirius yang akan mengantarkan Anda menuju puri. Trochunter Delirius sudah menyiapkan kereta untuk rombongan Anda. Semoga Anda menikmati perjalanan Anda. Maafkan saya karena tidak dapat mengantar Anda sendiri.”

“Aku tak keberatan. Toh kalaupun aku keberatan aku tak berhak mengajukan keberatanku. Aku sadar ini sudah bukan daerah kekuasaanku,” jawab Raja Castellans.

“Semoga kita tak bertemu lagi, Yang Mulia”

“Yah, tidak perlu aku hanya bertanya kenapa kau begitu ketus. Dan mungkin ini agak terlambat, tetapi aku sangat berterimakasih atas bantuanmu. Tolong sampaikan salamku kepada ibumu, ia sangat beruntung mempunyai putra sepertimu,” ucapnya mencoba bersahabat.

“Menurutku malah sebaliknya…..” gumamnya.

“Maaf apakah tadi kau mengatakan sesuatu?” tanya Raja Castellans.

“Tidak, hanya saja saya teringat ada hal yang harus segera saya kerjakan. Sampai jumpa di lain kesempatan, Yang Mulia!”

“Baiklah,” yakin Sang Raja.

Mereka berpisah menuju tujuan masing-masing. Sang Raja bersama Trochunter Delirius berkereta sepanjang jalan dari gerbang Kerajaan Palsia ke kediaman Sir Iron. Untuk memecah keheningan, Raja Castellans menanyakan perihal pemilik puri yang akan mereka tuju.

“Jadi siapa sebenarnya orang yang kalian sebut Sir Iron itu?”

“Hmmm, apakah beliau tidak menceritakannya kepada Anda?”

“Beliau? Maksudmu Bernhard? Apakah dia sepenting itu? Aku tak mengira,” katanya. Namun karena tidak mendapat tanggapan Sang Raja melanjutkan, “yah, ia hanya mengatakan bahwa kami akan berlindung di Puri Sir Iron, tetapi dia tidak menjelaskan lebih detail.”

“Kalau begitu, Anda tidak tahu siapa beliau?”

“Memangnya siapa dia? Apakah dia atasanmu? Seberapa berkuasa dia di daerah ini?”

“Mungkin nanti saya akan menceritakan kepada Anda. Kita sudah hampir sampai gerbang puri.”

Raja Castellans melongokkan kepalanya melewati jendela, dan terhipnotis oleh keindahan puri di depannya membuat dirinya kehilangan kata-kata. Ia tak mengira di kerajaan hantu ini ia bisa menemukan istana yang keindahannya bahkan menandingi puri peristirahatan kesayangannya.

Kekagumannya akan keindahan itu terusik oleh kengerian pemandangan yang memasuki penglihatannya. Ada dua orang anak  yang berlarian  ke arah kereta mereka. Hal itu membuatnya spontan berteriak, “Awas!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Lalu kereta tiba-tiba terhenti. “Tenanglah Yang Mulia! Mereka memang suka menantang bahaya. Mereka takkan membiarkan kita menabrak mereka,” katanya sembari tersenyum. Trochunter Delirius lalu turun menghampiri mereka.

“Io, Ichi, apa yang kalian lakukan di sini? Jangan bilang padaku kalian bolos latihan Hex lagi! Apa yang akan kalian katakan pada Sir Iron jika Beliau tahu?”

“Paman Delirius tidak akan berani, aku tahu itu makanya kami nekad. Jadi apakah ayah kembali bersama kalian?” tanya anak laki-laki itu.

“Apakah Sir Iron ada di dalam, Ayah?” tanya si anak perempuan yang ternyata putri Trochunter Delirius sambil langsung berlari membuka pintu kereta.

“Ichii, jangan!”

“Io, kamu pasti terkejut. Lihat siapa di dalam sini! Ayahmu sudah ubanan, pasti dia kangen sama bibi. Ayo lihat sini!” teriaknya pada Io.

“Io!”

“Aku mau lihat, Paman.”

Io kemudian ikut masuk ke dalam kereta, lalu berkata, “Dia bukan ayahku! Ayahku tidak setua ini. Ichii, awas ya nanti kulaporkan ke ayah biar kamu dihukum masuk penjara bawah tanah!”

Ichii berlari menghindari pukulan Io menjauhi mereka. Lalu Delirius kembali masuk ke dalam kereta. “Maafkan mereka Yang Mulia. Sepertinya mereka terlalu dimanja oleh ibu mereka sehingga agak nakal,” katanya sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa, mereka anak-anak yang lucu. Apakah mereka anakmu?”

“Ichii, memang putriku. Sedangkan Io adalah putra Sir Iron,” jawabnya singkat.

“Putrimu cantik,” puji Sang Raja.

“Terimakasih, Ichii adalah salah satu alasanku untuk tetap hidup. Mari silakan kita sudah sampai.”

“Baiklah, mari!”

Seorang wanita berpakaian putih telah menunggu mereka di depan pintu  masuk puri tersebut bersama beberapa orang yang berpakaian seperti Trochunter Delirius. Seorang pria keluar dari kelompok tersebut segera menghampiri Delirius.

“Delirius, Sir Iron memintamu untuk mengantarkan pesan ini kepada Yang Mulia Raja Vayasin,” katanya seraya menyerahkan gulungan pesan kepada Delirius.

“Kapan Sir Iron kembali, Echium?”

“Aku tidak tahu ini permintaannya sebelum kepergian terakhirnya. Aku sendiri tidak mengerti mengapa bukan Sir Iron sendiri yang menyampaikannya. Tampaknya ada hal yang merisaukan Sir Iron belakangan ini,” kata Echium.

“Baiklah!”

Kemudian pandangannya beralih pada seorang wanita berpakaian serba putih di dekat Echium. “Saya diminta untuk menyerahkan nasib Raja Castellans selanjutnya pada Anda. Aku akan pergi sekarang,” katanya singkat. Delirius berbalik kembali ke kereta kudanya dan segera memacu kudanya keluar gerbang puri.

Wanita berbaju putih itu berjalan di depan Echium dan pria lainnya kemudian pergi menyambut Raja Castellans yang masih mengagumi keindahan puri tersebut. “Saya Krya Belowud, selamat datang di Puri Sha ini, semoga Anda menikmati perjalanan Anda. Saya yakin sebentar lagi Sir Iron akan kembali untuk menyambut kedatangan Anda,” katanya memperkenalkan diri.

“Terimakasih atas sambutan Anda yang ramah, berbeda sekali dengan sambutan yang kami terima sebelumnya.”

“Jika demikian kiranya kami berhutang maaf kepada Anda. Echium akan menunjukkan sayap timur yang telah disiapkan untuk Anda tinggali selama berada di sini, dan Argen akan mengantarkan makan siang Anda. Malam ini kami mengundang Anda dalam jamuan sederhana kami,” kata Belowood lagi.

***

Setelah melepas lelah dalam kamar tamu di sayap timur puri, mereka menuju ruang jamuan dengan diantar Echium. Betapa terkejutnya Raja Castellans melihat siapa yang juga ikut menghadiri jamuan itu. Selain ada anak laki-laki kecil yang tadi hampir ditabrak keretanya, yang lebih mengejutkan lagi melihat seseorang yang seumur dengan Bernhard Michael duduk di ujung meja jamuan tersebut. Dia berdiri untuk menyambut kedatangan Raja Castellans.

“Selamat malam, saya kira saya harus meminta maaf karena saya tidak berada di sini ketika Anda tiba. Saya harap Anda memakluminya.” Ia berhenti sejenak untuk melihat reaksi Raja Castellans. Melihat reaksi Sang Raja yang biasa-biasa saja, ia melanjutkan, “Saya Demitrious Sha, mungkin Anda sudah bertemu istri saya, Kea Bellowood,” ia menunjuk wanita yang tetap memakai pakaian putih yang tadi dikenakannya, “dan si kecil yang nakal ini adalah putra saya Io. Saya harap kenakalannya tadi tidak membuat suasana hati Anda memburuk dan melanyapkan selera makan Anda,” katanya pada Raja Castellans.

“Tentu saja tidak, lagi pula ia anak yang manis.”

“Baiklah. Semoga Anda dapat menikmati kelezatan makanan ini.”

Setelah itu jamuan berlangsung dalam kesenyapan sampai Io mengusik keheningan. “Kakek, bolehkan kalau Io panggil kakek?”

“Boleh saja. Panggil saja kakek Cast, Kakek boleh panggil kamu Io?” kata Raja Castellans. Sepertinya ia sangat menyukai anak kecil hingga tidak menyebut kedudukannya sebagai raja.

“Tentu saja boleh nama Io kan Io jadi ya kakek mesti panggil Io pakai nama Io dong!”

“Kakek, Kakek Cast, kenapa rambut kakek banyak ubannya? Apa kakek rindu nenek seperti Papa yang selalu rindu Mama jadi rambut Papa ada ubannya walaupun sekarang pasti sudah hilang kan sudah ketemu mama. Nah, kalau kakek sampai sebanyak itu ubannya berarti kakek sudah lama tidak bertemu nenek. Apa Io benar, Kek?”

“Io, Kakek sudah tidak sekecil kamu makanya kakek punya banyak uban. Kakek kemari bersama nenek kok, tapi nenek masih lelah jadi nenek makan malam di kamar. Nah sekarang kakek tanya balik. Kenapa Io pikir kakek merindukan nenek? Padahal kakek selalu bersama nenek.”

“Habis Ichii bilang kalau ada orang yang rindu sama orang lain, dia bakalan ubanan kayak Papa Io yang setiap pergi pasti rambutnya tambah banyak yang putih. Hehehe,” katanya sambil tersenyum jahil.

“Io, mana sopan santunmu? Apa kamu tidak mendapat pelajaran tentang sopan santun? Awas nanti Papa tinggalkan kamu belajar sendiri besok ya?!?” kata Bernhard.

“Ah tidak mungkin Papa berani, karena kalau tidak Mama pasti melarang Papa makan kue favorit Papa seperti dulu waktu papa pergi ke tempat nenek tanpa Io, hehehe,”

“Kali ini papa serius kalau kamu masih tetap nakal papa tidak akan menemani Io kemanapun lagi. Kali ini kamu harus mengerti hal yang dapat kamu tanyakan dengan sopan dan bertanya sesuai tempatnya. Kamu mengerti?”

“Tapi, kekek kan tidak marah, lalu kenapa Io yang dimarahi? Papa tidak adil sama Io!”

Demitrious kemudian berdiri dan menggeser kursinya. “Permisi sebentar, saya harus membicarakan sesuatu dengan putra saya yang terlalu manja ini,” katanya pada yang lainnya. Pandangannya berpaling pada putranya, “Io, ikut papa sebentar keluar.”

Merasakan aura kemarahan yang dipancarkan ayahnya, Io segera mengikuti langkah-langkah tegap ayahnya meninggalkan ruangan itu. Belum lama berselang, terdengar suara gemerisik aneh menembus ruangan yang baru saja ditinggalkan Demitrious bersama putranya. Kemudian terdengar teriakan panik Io.

“Papa! Papa! Papa, jangan tidur di sini! Malu kan pa! Papa dengar Io kan?!? Mama, Papa tidur di lantai lagi! Mama marahi Papa dong!”

“Ada apa?” tanya Raja Castellans sambil bergegas keluar menghampiri mereka.

“Tidak ada apa-apa! Echium cepat antar Raja Castellans kembali menikmati jamuannya! Arsland! Dimana kamu cepat kemari bantu aku! Io, kembali ke kamarmu bersama Bibi Aurum dan segera tidur. Mengerti?!?” rentetan kata-katanya terdengar tegas sehingga tak ada yang berani membantahnya. Wajah pucatnya menyiratkan sesuatu yang tidak wajar telah terjadi, hal itulah yang membuat mereka segara mengikuti instruksinya.

Dengan sigap Echium segera menyeret Raja Castellans menjauhi kerumunan yang mengelilingi Demitrious. Tanpa berusaha memendam rasa penasarannya, Raja Castellans menanyakan keadaan Demitrious. Yang dengan ketus dijawab olehnya, “Maaf dengan ketidaknyamanan Anda ini. Saya yakin sebentar lagi Sir Iron akan kembali, tapi saya diperintahkan untuk mengantar Anda kembali ke dalam dan bukan untuk menjelaskan sesuatu kepada Anda, Yang Mulia. Maafkan saya. Mari lewat sini.”

“Aku mengerti kau diperintahkan untuk tidak berbicara, tapi tidakkah kau berpikir hal itu malah akan membuat orang lain penasaran dan mungkin membuat orang tersebut ingin menyelidikinya lebih jauh? Aku yakin kau tahu lebih banyak dan bahkan aku lebih yakin lagi kau ingin berada di sana untuk melihat ada apa sebenarnya. Apakah aku benar?” tanyanya.

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya Yang Mulia, saya harus mengingatkan Anda bahwa urusan rumah tangga puri ini bukanlah masalah yang harus Anda cemaskan, sebaliknya jika saya menjadi Anda, saya akan mencemaskan kerajaan saya yang sampai saat ini masih dikuasai orang asing yang belum tentu akan memperlakukan rakyat saya dengan baik. Bagaimana Yang Mulia? Saya kira kata-kata saya tidak salah, jadi sebaiknya mulai sekarang Anda memendam keingintahuan Anda tentang masalah ini dalam-dalam dan pikirkanlah hal yang seharusnya Anda pikirkan sebagai seorang raja sebuah kerajaan,” terangnya.

Kaget mendengar kebenaran dalam kata-kata yang diucapkan Echium, membuatnya terdiam memikirkan kelalaiannya mengenai keadaan rakyat yang telah ditinggalkannya untuk melarikan diri. Betapa hina dirinya sampai melupakan tanggung jawabnya terhadap rakyat yang telah melayaninya seumur hidup mereka padanya. Di sini ia malah menikmati kemewahan Puri Sir Iron yang bahkan bukan miliknya ini, namun tidak sedetikpun ia ingat terhadap rakyatnya. Apakah mereka diperlakukan dengan baik oleh Raja Vish yang telah mengambil alih kerajaan tersebut hingga ia harus melarikan diri seperti pengecut kemari.

Comments on: "TATP" (6)

  1. Wuih, as! Tak bs berkata apa2!

  2. kenapa mew?

  3. asrina… ini tulisanmu? wuiiihhh… kereeennnn buuuu…
    nulis FF dong ^_^

  4. Ya tulisanku, iest! Tapi lg stuck neh *hammer

    Nulis FF? *hmpfh*

  5. hehehehe bagus as…..
    tapi konfliknya kurang ngegigit….atau masih ada sambungannya?

  6. Mer, sambungannya masi on the way!
    Nanti klo uda update aku kasi tau di tret komennya, ok?!?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: