my pathetic work in writing

SN 1.0

 

Apa yang kau harapkan dari sebuah pesta yang diselenggarakan oleh seorang raja? Sebuah kemeriahan tanpa akhir?  Sebuah tempat berkumpulnya para pemenang? Ataukah hanya sebuah pertunjukan kemewahan di antara derita rakyatnya? Itulah pikiran yang berkecamuk di dalam hati pria itu.

Seorang pria yang terasing dari seluruh kemeriahan itu, hanya berdiri memandangi taman dari seberang kaca tinggi mewah aula luas tempat puluhan pria dan wanita berdansa berpasangan mengikuti alunan musik. Pria yang menggenggam rahasia hingga berlindung dari seluruh dunia namun kehidupan selalu menyeretnya pada panggung terbuka untuk dinilai, untuk dihakimi. Baginya takdir begitu kejam padanya, mengapa dia tak dapat melawan?

“Maafkan saya, Paduka Yang Mulia memanggil Anda.”

Pria itu menoleh pada asal suara itu. “Ada apa Rafe? Tak bolehkan aku sendiri di sini?”

“Saya rasa itu tidak bijaksana. Anda tahu Yang Mulia sangat mudah marah jika keinginan Beliau tidak terkabul,” ujar Rafe sambil tersenyum getir.

“Itulah yang aku takutkan, Rafe. Jika aku menemui beliau maka berakhirlah keberadaanku di kerajaan ini,” balasnya tak kalah getir.

“Sebaiknya Anda temui Paduka segera, jika tidak apapun yang Anda khawatirkan akan menjadi lebih buruk.”

Pria itu terdiam sejenak lalu menghela nafasnya. “Baiklah kalau begitu, ingatlah kata-katamu sendiri, Rafe. Apakah ada yang lebih buruk dari apa yang akan terjadi. Tapi kika itu terjadi jangan pernah menyesal itu bukanlah pilihanmu tapi pilihanku,” ucapnya sambil menepuk bahu kuyu Rafe. Pria itu kemudian berlalu dengan mantap.

Rafe mengantarkan pria itu melalui kerumunan para bangsawan yang sedang larut dalam suasana pesta menuju satu-satunya pintu yang masih tetutup. Sebelum ia sempat mengetuk pintu tersebut menjeblak terbuka. Seorang pria dengan wajah pias keluar dari ruangan tersebut. Begitu menatap wajah Rafe dan pria itu wajahnya langsung berseri kembali. Cepat-cepat ia mempersilahkan mereka masuk.

“Maaf saya mengganggu, apakah ada yang dapat saya lakukan untuk Paduka?” sapa pria itu.

Sang raja menoleh pada pria yang sedari tadi ditunggunya untuk muncul itu. “Ah akhirnya kau muncul juga. Tadi aku menceritakan kemampuanmu dalam membaca masa depan pada sahabatku ini, kemudian dia tertarik untuk membuktikannya. Jadi maukah mau meramal masa depan sahabatku ini?” Tanya sang raja dengan ceria seperti seorang anak sedang memamerkan mainan barunya pada teman-temannya.

“Tapi, Yang Mulia? Apakah Anda yakin?” pria itu kembali bertanya.

“Apalagi yang kamu takutkan? Takkan ada yang menyebarluaskan kemampuan anehmu di luar kok!” kilah sang raja sumringah.

“Baiklah, jika begitu. Saya hanya berharap Anda tidak akan menyesal Yang Mulia,” tambah pria tersebut.

“Ayo kemari sahabat, pinjamkan tangan kananmu barang sebentar,” ajak sang raja sambil mengamit tangan sang sahabat.

Pria tersebut kemudian mengelus tangan sang sahabat sambil memejamkan matanya. Sahabat sang raja memperhatikan pria yang berada di depannya yang bagai berada di dunia lain. Aura mistis menguar dari dalam tubuhnya. Tadinya dia hanya mengganggap perkataan sang raja tentang kemampuan pria itu untuk meramal masa depan sebagai sebuah lelucon. Orakel atau peramal biasanya adalah seorang gadis suci yang bersemedi di kuil-kuil elemen. Tidak mungkin pria tegap di depannya ini adalah seorang Orakel. Namun kali ini sepertinya sang raja tidak sedang bercanda.

“Bagaimana? Apakah sahabatku akan mendapatkan keinginannya? Apakah dia akan menemukan cinta sejatinya? Ayo katakan!” seru sang raja tak sabar.

Pria itu kemudian membuka matanya dan menatap sahabat raja dengan tatapan yang tak bisa digambarkan. Antara bertanya dan menuduh, “Apakah Anda benar-benar yakin Yang Mulia?”

Sang raja kehabisan kesabarannya, “sudahlah, katakana saja apa yang kau lihat!”

“Perkataan Anda adalah titah bagi hamba.” Kemudian pria itu mulai bercerita tanpa dapat dihentikan lagi.

Di tempat lain seorang pria lain tersentak dan menjatuhkan sebuah buku.

***

 

Iklan

Comments on: "SN 1.0" (4)

  1. yo..yo..yo..yoo…korin…i am coming…
    baru liat bentar nehhh..
    nti mampir2 lagi yahhh..yg ptg eke ninggalin jejak dulu..hohohoho

  2. pasti siiput belum sempet baca ya?
    [hammer]

  3. Thanx for sharing my link.

  4. your welcome!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: